Monday, February 27, 2017

MAMPU TAKLUKAN HARIMAU DENGAN KESABARAN

pustaka online | 12:14 AM | | Be the first to comment!
 MAMPU TAKLUKAN HARIMAU DENGAN KESABARAN 


Alkisah, dua orang lelaki berkawan akrab. Nama mereka masing-masing, katakan saja adalah Sulaiman dan Ismail. Mereka sama-sama orang yang shaleh. Karena tempat yang berjauhan maka tidak memungkinkan mereka untuk selalu bertemu. Tetapi ada kebiasaan diantara mereka, untuk bertemu sekali dalam setahun. Sulaiman yang jauh tempatnya selalu datang bertamu kerumah Ismail.

Sebagaimana kebiasaan, suatu hari Sulaiman datang berkunjung kerumah sahabatnya itu. Waktu sampai ia mendapati pintu rumah Ismail sedang tertutup rapat-rapat. Ia kemudian mengetuk pintu itu. Setelah beberapa kali ketukan, terdengar ada suara sahutan istri sahabatnya dari dalam rumah. "Siapakah itu yang mengetuk-ngetuk pintu ?"
"Aku, saudara suamimu. Aku datang ke mari untuk mengunjunginya hanya karena Allah SWT semata."
"Oh………..???????? Dia sedang ke luar pergi mencari kayu bakar. Mudah-mudahan saja ia tidak kembali lagi !"

Begitu jawab istri tuan rumah. Mendengar jawaban seperti itu heran bercampur dongkol meliputi diri Sulaiman. Belum hilang herannya, ia masih lebih kaget lagi. Si istri tersebut masih menggumamkan kata-kata makian kepada Ismail, sang suami.

Sulaiman dipersilahkan duduk diberanda dan kemudian mereka bercakap-cakap. Tak lama kemudian datang Ismail. Ia terlihat menuntun seekor harimau yang dipunggungnya terdapat seikat kayu bakar. Begitu ,melihat ada sahabatnya, Ismail langsung mendekatinya sambil mengucapkan salam kehangatan.

Kayu bakar kemudian diturunkan dari punggung harimau. Ismail sejurus kemudian berkata kepada harimau itu. "Sekarang pergilah kamu mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu!".

Langsung saja Ismail mengajak Sahabatnya masuk kedalam rumah. Sementara mereka bercakap-cakap terdengar suara sang istri yang terus-terusan saja memaki-maki sang suami dengan suara bergumam. Sang suami yang shaleh itu diam saja. Dalam hatinya Sulaiman heran dan campur takjub akan kesabaran sahabatnya. Meskipun istrinya terus saja memaki-maki dirinya ia tetap tidak memperlihatkan muka kebencian. Setelah puas bercakap-cakap pulanglah sahabat dengan menyimpan rasa kekaguman kepada sahabatnya yang sangggup menahan rasa marahnya menghadapi istrinya yang begitu cerewet dan berlidah panjang. Setahun berlalu sudah. Sebagaimana kebiasaan, kembali Sulaiman mengunjungi rumah sahabatnya itu. Waktu sampai didepan pintu dan ia mengetuk pintu itu. Dari dalam terdengar langkah-langkah kaki wanita dan setelah pintu terbuka terlihat wajah istri sahabatnya yang dengan senyum ramah menyapa.
"Tuan ini siapa ,ya ?"
"Aku adalah sahabat suamimu. Kedatanganku ini adalah semata untuk mengunjunginya."
"Oh……????? Selamat datang Tuan !"

Sapaan istri sahabatnya begitu ramah sambil mempersilahkan sang tamu untuk masuk kedalam rumah dengan penuh keramahan. Terasa begitu teduh dihati. Tak lama kemudian sahabatnya Ismail datanng. Ia kelihatan menenteng seikat besar kayu bakar diatas kepalanya. Segera mereka terlibat perbincangan serius. Sempat sang tamu menanyakan beberapa hal yang ia herankan perihal keadaan tuan rumah yang menurutnya ada perbedaan dengan suasana setahun yang lalu. Tamu menanyakan bagaimana ia mampu menaklukan seekor harimau, yang binatang buas itu sehingga mau memanggul kayu bakarnya. Mengapa ia sekarang tidak bersama-sama dengan binatang itu. Mana harimau itu ?

"Ketahuilah, saudaraku. Istriku yang dahulu berlidah panjang itu sudah meninggal. Sedapat mungkin aku berusaha bersabar atas perangai buruknya, sehingga Allah SWT memberi kemudahan diriku untuk menundukkan seekor harimau sebagaimana yang engkau lihat sendiri. Semuanya terjadi lantaran kesabaranku kepadanya. Lalu aku menikah lagi dengan perempuan yang sholihah ini. Aku sangat gembira mendapatkannya, maka harimau itupun dijauhkan dari diriku. Aku memanggul sendiri kayu bakar sekarang lantaran kegembiraanku."
read more...

Sunday, February 19, 2017

Memandang Ujian Allah swt

pustaka online | 12:39 PM | | Be the first to comment!
Memandang Ujian Allah swt


Memandang Ujian Allah swt dari sudut pandang lain ;

MENGAPA ????

 KENAPA AKU DIUJI?
 Surah Al-Ankabut ayat 2-3
 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)  mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji  lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum  mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang  yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang  yang dusta.

 KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?
 Surah Al-Baqarah ayat 216
 Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik  bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu
 padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui , sedang  kamu tidak mengetahui.

 KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
 Surah Al-Baqarah ayat 286
 Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

 RASA FRUSTASI?
 Surah Al-Imran ayat 139
 Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu  bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling
 tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

 BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
 Surah Al-Imran ayat 200
 Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan  kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di
 perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya  kamu beruntung.
 Surah Al-Baqarah ayat 45
 Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan  sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
 orang-orang yang khusyu',

 APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?
 Surah At-Taubah ayat 111
 Sesungguhnya All ah telah membeli dari orang-orang mu'min,  diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk
 mereka.

 KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
 Surah At-Taubah ayat 129
 Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal

 AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!
 Surah Yusuf ayat 87
 dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah,
 melainkan kaum yang kafir.


 Surah An-Nisaa' ayat 86
 Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka  balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah
 (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.
 

 Pesan Hasan Al-Banna:
 "Sesungguhnya amanah yang ada itu lebih banyak dari waktu  yang tersedia, untuk itu bantulah saudaramu dalam  menyelesaikannya serta sederhanakanlah apa yang bisa  disederhanakan"
 
read more...

Kisah Pasir dan Batu

pustaka online | 12:34 PM | | Be the first to comment!
Kisah Pasir dan Batu

Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah
melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.

Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir beterbangan disekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. "Ah..,tamatlah riwayat kita," kata pengembarapertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. "Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini."

Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Ia membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. "Kita selamat," seru salah seorang di antara mereka. "Lihat, ada air di sana."

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung,
bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air. Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. "Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini."

Pengembara kedua heran. "Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir ?"
Yang ditanya tersenyum. "Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di atas pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan.
Biarkan semuanya lenyap dan pupus," jawabnya dengan bahasacukup puitis. "Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan.
Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada.Biarkan semuanya tersimpan."

Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.

Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling
mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mengguratkan memori di
hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi ? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan ?

Teman, cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya. Torehkan kenangan bahagia itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.
 
read more...

Kesalahan Baca AL-FATIHAH

pustaka online | 12:24 PM | | | Be the first to comment!
MOHON KOREKSI JIKA ADA KESALAHAN DARI STATEMENT INI...
NAMA SYAITAN DALAM AL-FATIHAH


 Al-Fatihah adalah satu rukun dalam solat, apabila cacat
bacaannya maka rusaklah solat. Oleh itu perbaikilah bacaannya
dengan ilmu tajwid. Bukan setakat bacaannya saja rusak malah
kita menyebut nama syaitan didalam solat kita.

Berikut diperturunkan nama syaitan laknat yang wujud didalam
Al-Fatihah, sekiranya kita tidak berhati hati.

Nama syaitan;
1. DU LI LAH (bila dibaca tiada sabdu) sepatutnya DULILLAH
2. HIR ROB (bila dibaca dengan sabdu) sepatutnya HI ROB
3. KIYYAU (bila dibaca dengan sabdu) sepatutnya KI YAU
4. KANNAK (bila dibaca dengan sabdu) sepatutnya KA NAK
5. KANNAS (bila dibaca dengan sabdu) sepatutnya KA NAS

SIROTHOLLAZI............. sehingga habis hendaklah
dibaca tanpa henti
AMIN ...............hendaklah mengaminkan Al-Fatihah dengan
betul yaitu  AA......dua harakat, MIN .... 3 harakat,
semoga Amin kita bersamaan dengan Amin malaikat .....  Insya-Allah.
semoga kita menjadi orang yang sentiasa memperbaiki bacaannya.



Perhatian;
Sebarkan hukum Allah walaupun satu ayat semoga kita mendapat
rahmatNya, Insya-Allah.
read more...

Berhati-hati Dalam Memilih Teman

pustaka online | 12:17 PM | | Be the first to comment!
Berhati-hati Dalam Memilih Teman


Cinta seorang Muslim kepada saudaranya yang dilakukan karena Allah Subhanahu wataala adalah buah iman dan akhlaq yang baik.

Cinta itu adalah pagar penjaga Allah untuk hati seorang hamba, dan Allah meningkatkan iman padanya agar tidak pudar dan melemah.

Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda:

“ Pengikat tererat Iman itu adalah engkau mencintai karena Allah, dan engkau membenci karena Allah”. (H.R. Imam Thabrani dalam Mu jam Al Kabir, Hadits ke-11537).

Orang-orang yang dipilih untuk mendapatkan cinta harus punya kejelasan dan tujuan yang bermanfaat bagi seseorang dalam hal agama, dunia dan akhiratnya.
Oleh sebab itu memilih teman merupakan hal yang sulit dan pelik dan memerlukan taufik.

Seseorang yang berakal tidak layak bersahabat dengan setiap orang yang dijumpai, karena manusia itu makhluq yang saling mempengaruhi.

Salah memilih sahabat akan membawanya kepada akibat kerugian dan
penyesalan.

Ibn. Hajar Rahimahullah berkata : “ Tidak selayaknya seseorang menyepele-kan dalam memilih orang yang pantas untuk dijadikan sahabat “.



Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam bersabda :

“ Seseorang tergantung pada agama rekan dekatnya. Untuk itu, hendaknya salah seorang diantara kalian melihat siapa yang ia jadikan sebagai sahabatnya”.

(H.R. Abu Daud, hadits 4833, juga Imam Tirmidzi, Hadits 2379 Juz 7 hal 111 hadits hasan gharib. Al-Albani mentashihnya dalam Shahih Sunan Abu Daud, Hadits ke- 4046, Juz.3, hal 917).
 
read more...

15 Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat

pustaka online | 12:10 PM | | | Be the first to comment!
BALASAN MENINGGALKAN SOLAT 

  Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang seorang pemuda masuk ke dalam masjid dengan menangis.
  Ketika Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai anak muda kenapa kamu menangis?"
 Orang muda itu menjawab, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan serta tidak ada orang yang mau memandikannya !."
     
  Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikuti orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.a. mendapati bahwa ayah orang muda itu telah bertukar rupa menjadi seekor babi hitam, maka merekapun segera kembali dan memberitahu Rasulullah S.A.W,
  "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar rupa menjadi babi hutan yang hitam."

   Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar bentuk menjadi manusia. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat mensholatkan mayat tersebut.

   Ketika mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi babi hutan yang hitam, maka Rasulullah! S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu,  "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia masih hidup?"
Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mau mengerjakan sholat."
   Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda,  "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah  S.W.T seperti babi hutan yang hitam."
  Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Ketika mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka mencoba membunuh ular itu. Ketika mereka mencoba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadur Rasulullah, mengapakah kamu semua mau membunuhku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyiksa-nya sehingga sampai hari kiamat.
  " Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?"
  Berkata ular tsb , "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :

1.    Apabila dia mendengar azan, dia tidak mau datang untuk      sembahyang berjamaah.
2.    Dia tidak mau keluarkan zakat hartanya.
3.    Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.

Maka inilah balasannya.

DEMIKIANLAH SAUDARA-SAUDARA SESAMA MUSLIM, SEMOGA CERITA DIATAS MENJADI PELAJARAN BAGI KITA SEMUA KARENA SESUNGGUHNYA KITA HARUS SALING MENGINGATKAN UNTUK BERBUAT KEBAIKAN

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.
      ......
read more...

AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

pustaka online | 11:55 AM | | Be the first to comment!
AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT


Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W
memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an." Telah bersabda Rasulullah
S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."

Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari." Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu :
"Apakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca menghadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan ditangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"

Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua karena anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
read more...

4 Amalan Baik Sebelum Tidur

pustaka online | 11:52 AM | | | Be the first to comment!
4 HAL SEBELUM TIDUR


MENCARI ILMU

4 PERKARA SEBELUM TIDUR

( Tafsir Haqqi )
Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra :   "Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :


1.     Sebelum khatam Al Qur'an,
2.     Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3.     Sebelum para muslim meridloi kamu,
4.     Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh....

"Bertanya Aisyah :

"Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?"
Rasul tersenyum dan bersabda :  "Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur'an. 
Membacalah sholawat untukku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat.

Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.

Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka
seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh
Sekian untuk ingatan kita bersama.
 
read more...

Dua Wanita Mukminah

pustaka online | 11:48 AM | | Be the first to comment!
Dua Wanita Mukminah


(Minggu , 19 Februari 2017)

Dua orang wanita mukminah yang namanya terukir dengan indah didalam kitab-Nya yang mulia dimana setiap saat ribuan bahkan jutaan umat 
islam membaca namanya.Al-Qur an mengabadikan namanya sebagai contoh dan teladan bagi kaum wanita muslimah yang ingin mengikuti jejaknya dialah Asiyah istri Fir aun dan Maryam binti Imran.Karena keteguhan imannya, ketaatannya dan kepasrahannya yang mendalam terhadap takdir Rabb-Nya maka surgalah menjadi tempat tinggal mereka berdua yang abadi.Kita simak kisah mereka berdua dalam ayat berikut ini,

Allah Ta ala berfirman: Dan, Allah membuat istri Fir aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata, Ya, Rabbi, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim, dan ingatlah Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan kedalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitabNya dan dia termasuk orang yang taat (At_tahrim:11-12)Firman-Nya: Dan Allah membuat istri Fir aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman . Namanya adalah Asiyah binti Muzahim.Dia memiliki firasat yang kuat dan benar, beriman kepada Musa alaihis salam, sehingga dia disiksa Fir aun.Artinya, Allah telah menjadikan keadaannya sebagai perumpamaan tentang keadaan orang-orang yang beriman sebagai sugesti bagi mereka agar teguh dalam ketaatan, berpegang kepada agama dan sabar jika ditimpa kekerasan, bahwa pasukan kafir tidak akan mampu menimpakan mudharat kepada mereka, seperti keadaan istri Fir aun, meski dia berada dibawah kekuasaan orang kafir yang paling kafir. Imannya kepada Allah membuatnya berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Disini terkandung dalil bahwa hubungan kekufuran tidak menimbulkan mudharat terhadap iman.

Firman-Nya, Ketika ia berkata,Ya Rabbi bangunlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir aun dan perbuatannya artinya, dari perbuatannya yang buruk dan dari kemusyrikannnya serta kejahatan perbuatannya. Menurut Ibnu Abbas, dari perbuatannya artinya dari seluruh perbuatannya.Menurut Salman, istri Fir aun disiksa dengan matahari. Jika mereka meninggalkannya, maka para malikat melindunginya dengan sayap-sayapnya. Dia juga dapat melihat rumahnya disurga.Perkataannya Dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim menurut Al-Kalaby, maksudnya penduduk Mesir. Menurut Muqatil, maksudnya kaum Qibthi. Allah mengeluarkan rumahnya disurga, sehingga dia dapat melihatnya, lalu rohnya dicabut. Menurut Al-Hasan dan Ibnu Kaisan, Allah menyelamatkannya dengan keselamatan yang mulia dan mengangkatnya ke surga sambil makan dan minum.

Disini terkandung dalil bahwa memohon perlindungan kepada Allah dan kembali kepada-Nya, memohon keselamatan ketika mendapat cobaan dan bencana, merupakan kebiasaan orang-orang shalih baik laki-laki maupun wanita, karakter orang-orang yang beriman kepada akhirat, laki-laki dan wanita. Dari Abu Hurairah, bahwa Fir aun mengikat istrinya dengan empat tali dalam kedaan terlentang, lalu meletakkan batu penggiling diatas dadanya, matanya dihadapkan kearah matahari.

Dia menengadahkan kepala ke arah langit seraya berkata: Ya, Rabbi, bangunlah untukku sebuah rumah disisi-Mu Firman-Nya Dan, ingatlah Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya Maksud penyebutan Maryam ini, bahwa Allah mengimpunkan baginya kemuliaan dunia dan akhirat, memilihnya diantara para wanita seluruh alam, padahal dia hidup ditengah orang-orang kafir. Dia memelihara dirinya dari kekejian dan jauh dari kaum lelaki. Tak seorang lelakipun pernah menyentuh, menikah, apalagi berzinadengannya. Dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabb-Nya dan kitab-kitab-Nya dan dia termasuk orang-orang yang taat artinya, dia membenarkan syariat-syariat Allah yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata Rasulullah shalallau alaihi wassalam bersabda: Sebaik-baik wanita penghuni surga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, istri Fir aun (ditakhrij Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Hakim)Didalam Ash-Shahihain dan lainnya disebutkan dari hadits Abu Musa Al-Asy ary bahwa Nabi shalallau alaihi wassalam bersabda: Banyak laki-laki yang sempurna dan tidak ada wanita yang sempurna kecuali Asiyah istri Fir aun dan Maryam binti Imran..

Begitu mulianya derajat dan kedudukan kedua wanita tersebut yang dimana semua itu adalah hasil dari ketaatan mereka terhadap syariat Rabb-Nya. Dengan membaca kisah diatas dapat kita petik manfaatnya agar kita berlomba-lomba untuk menuju ketaatan kepada-Nya dan berusaha meraih predikat wanita shalihah, dimana dia adalah sebaik-baik perhiasan dunia dan tidak ada balasan bagi wanita shalihah selain surga-Nya.Ya, Allah masukkanlah kami kedalam orang-orang yang taat dan tunduk terhadap perintah-Mu. Amin.
read more...

Saturday, February 18, 2017

Ikrimah Bin Abu Jahal

pustaka online | 5:02 PM | Be the first to comment!
Ikrimah Bin Abu Jahal 

 

   Abu Ishaw As-Ayabi'i meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, maka Ikrimah berkata: Aku tidak akan tinggal di tempat ini!" Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata: "Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy?" Apakah
kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?" Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan
perkataan isterinya.
   Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka kepada Rasulullah isteri Ikrimah berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Justeru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya."
Rasulullah SAW menjawab: "Dia akan berada dalam keadaan aman!" Mendengar jawapan itu, maka isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah. Ketika Ikrimah menaiki kapal, maka orang yang mengemudikan kapal tersebut berkata kepadanya: "Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!" Ikrimah bertanya: "Apakah yang harus aku ikhlaskan?" "Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad adalah utusan Allah!" Kata pengemudi kapal itu. Ikrimah menjawab: "Tidak, jesteru aku melarikan diri adalah karena ucapan itu."
   Selepas itu datanglah isterinya dan berkata: "Wahai Ikrimah putera bapa saudaraku, aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah SAW."
   Kepada isterinya Ikrimah bertanya: "Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?" Isterinya menjawab: "Benar, aku telah berbicara dengan baginda dan baginda pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu."
   Begitu saja mendengar berita gembira dari isterinya itu, pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya, akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata: "Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim." Kepada isterinya Ikrimah berkata: "Penolakan kamu itu adalah merupakan suatu masalah besar bagi diriku."
   Tidak lama selepas Ikrimah bertemu dengan isterinya itu, mereka pun pulang kembali, setelah mendengar berita bahwa Ikrimah sudah pulang, maka Rasulullah SAW segera ingin menemuinya. Karena rasa kegembiraan yang tidak terkira, sehingga membuatkan Rasulullah SAW terlupa memakai serbannya.
   Setelah bertemu dengan Ikrimah, baginda pun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada di hadapan Rasulullah SAW Ikrimah lalu berkata: "Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat merasa gembira, selanjutnya Ikrimah kembali berkata: "Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan."
   Rasulullah SAW menjawab: "Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ikrimah kembali bertanya: "Selepas itu apa lagi?" Rasulullah menjawab: "Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya." Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW selepas itu baginda bersabda: "Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku
akan mengabulkannya."
   Ikrimah berkata: "Aku memohon kepadamu ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu."
   Maka Rasulullah SAW pun berdoa: "Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku mahupun tidak."
   Mendengar doa yang dimohon oleh Rasulullah SAW itu, alangkah senangnya hati Ikrimah, maka ketika itu juga ia berkata: "Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya, aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir."
   Demikianlah keadaan Ikrimah, setelah ia memeluk Islam, ia sentiasa ikut dalam peperangan hingga akhirnya ia terbunuh sebagai syahid. Semoga Allah berkenan melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada Ikrimah. Dalam riwayat yang lain pula diceritakan, bahwa ketika terjadinya Perang Yarmuk, Ikrimah juga ikut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki, pada waktu itu Khalid bin Walid mengatakan: "Jangan kamu lakukan hal itu, karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!" Ikrimah menjawab: "Karena kamu wahai Khalid telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah SAW, maka biarlah hal ini aku lakukan!"
   Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Pada waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. Abdullah bin Mas'ud pula berkata: Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka
   Menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata: "Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku." Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.
   Dalam riwayat yang lain pula ditambahkan: "Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: "Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku." Suhail pula
    Melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: "Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku."
   Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Semoga Allah melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga. Amin."


read more...

Ibnu Abbas, Profil Ulama Pencinta Ilmu

pustaka online | 4:58 PM | Be the first to comment!
Ibnu Abbas, Profil Ulama Pencinta Ilmu



   
   Saya yakin nama Ibnu Abbas bukanlah nama asing di telinga umat Islam. Dia adalah sahabat Rasulullah sekaligus keluarga dekat yang menguasai Al-Qur`an dan maknanya. Dia menguasai Al-Qur`an sampai ke dasar-dasarnya.
   Nama sebenarnya adalah Abdullah bin Abbas, putra paman Rasulullah Saw., Abbas bin Abdul Muthalib. Dia lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ibnu Abbas baru berumur 13 tahun. Dalam usia remaja itu, dia telah mampu menghafal 1660 hadits. Hadits-hadits itulah yang mengikat hati-hati kaum Muslimin menjadi satu ikatan hingga kini. Hadits-hadits Rasulullah Saw. yang dihafal Ibnu Abbas banyak dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka.
   Sejak usia enam tahun, Ibnu Abbas telah tinggal bersama Rasulullah. Dia menyediakan air wudhu beliau bila hendak shalat. Ibnu Abbas juga selalu shalat di belakang Rasulullah. Kemana pun Rasulullah Saw. pergi, Ibnu Abbas hampir selalu menyertainya. Segala peristiwa yang dialami Nabi Saw. direkam dalam hati dan pikirannya.
   Suatu hari, ketika Rasulullah Saw. hendak melaksanakan shalat, Ibnu Abbas seperti biasa menyediakan air wudhu buat beliau. Rasulullah amat senang. Tatkala hendak memulai shalat, beliau memberi isyarat agar Ibnu Abbas berdiri di sampingnya. Tapi Ibnu Abbas berdiri di belakangnya. Usai shalat, beliau menoleh dan bertanya kepada Ibnu Abbas, "Mengapa engkau tidak berdiri disampingku." Ibnu Abbas menjawab, "Anda sangat tinggi dalam pandanganku dan amat mulia. Tak pantas aku berdiri disamping anda." Lalu Rasulullah Saw. berdoa, "Ya Allah, berilah dia hikmah."
   Allah mengabulkan doa Rasulallah, dan memberi Ibnu Abbas hikmah. Ilmu hikmah yang dikuasai Ibnu Abbas melebihi para ahli hikmah yang ada saat itu. Dengan kedalaman ilmunya itu, Ibnu Abbas berhasil mengembalikan sekitar 20.000 kaum Muslimin yang sebelumnya memusuhi Ali bin Abi Thalib.
   Meski telah diberikan ilmu hikmah, Ibnu Abbas tak pernah berhenti menuntut ilmu. Bila seseorang menyampaikan sebuah hadits yang diterima dari salah seorang sahabat, maka ia mendatangi orang itu ke rumahnya untuk menanyakan hal itu. Ibnu Abbas berprinsip, "ilmu harus didatangi, bukan ilmu yang mendatangi".
   Kedalaman ilmu Ibnu Abbas diakui oleh beberapa ulama besar. Masruq bin Ajda, seorang ulama Tabi'in berkata, "Wajah Ibnu Abbas sangat elok. Bila berbicara sangat fasih. Dan bila menyampaikan hadits, dia sangat ahli dalam bidang itu."
   Untuk mengamalkan ilmunya itu, Ibnu Abbas menjadikan rumahnya sebagai majelis ilmu kaum Muslimin. Setiap orang yang mau mempelajari Al-Qur`an diundangnya masuk. Begitu pun dengan ilmu-ilmu lainnya, seperti Tafsir Al-Qur`an dan Ta'wilnya, ilmu Fara`id, Sastra Arab, Ilmu Fiqih, dan lain-lain. Setiap pertanyaan dijawab secara detil, lengkap dengan dalil-dalilnya. (sh)


read more...

hasan al basri dan gadis kecil

pustaka online | 4:54 PM | Be the first to comment!
hasan al basri dan gadis kecil 

 

   Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.

   Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

   Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
"Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."

   Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri.
"Aku akan ikuti gadis kecil itu."

   Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

   "Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah?
   Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"

   "Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang
menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"

   Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

   "Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?"

   "Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"

   "Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"

   "Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"

   "Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"

   "Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"

   "Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."

   Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."

   Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.




read more...

Hakim bin Hazam

pustaka online | 1:51 PM | Be the first to comment!
Hakim bin Hazam 

 

    Hari itu Ka'bah dibuka untuk umum sesuai ketentuan. Serombongan ibu-ibu masuk ke dalam Ka'bah untuk melihat-lihat tempat suci itu. Di antara rombongan itu ada seorang ibu yang tengah hamil tua. Ia amat gembira bisa mengunjungi bangunan yang dimuliakan itu. Beberapa saat setelah berjalan-jalan, tiba-tiba perut si ibu terasa mules hendak melahirkan. Ia tak sanggup lagi berjalan keluar Ka'bah. Diberikannya tikar kulit kepadanya, maka lahirlah bayi itu.
Bayi itu diberi nama Hakim, lengkapnya Hakim bin Hazam bin Khuwailid. Hazam adalah kakak laki-laki Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid.
    Hakim kecil dibesarkan dalam lingkungan keluarga bangsawan. Karenanya tak heran kalau Hakim kemudian tumbuh menjadi anak yang pandai. Setelah menginjak dewasa, Hakim diangkat menjadi kepala suku dan diserahi tugas mengurus rifadah (lembaga yang memberi bantuan kepada jama'ah haji yang kehabisan bekal) di masa jahiliyah. Tak jarang Hakim harus mengeluarkan uang dari koceknya sendiri untuk urusan yang satu ini.
    Hakim juga dikenal ramah. Dia dekat dengan siapa saja, termasuk dengan Rasulullah Saw., meski usianya lebih tua lima tahun. Hubungan itu makin dekat, ketika Rasulullah menikahi bibinya, Khadijah binti Khuwailid.
    Meski hubungan Hakim dengan Rasulullah begitu dekat, tapi Hakim tidak juga tergerak masuk Islam. Ia masuk Islam setelah penaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah), kira-kira 20 tahun setelah Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul. Itulah takdir Allah. Bukan hanya Hakim yang heran terhadap nasib dirinya, Rasulullah Saw. pun heran dengan keterlambatan Hakim masuk Islam.
    Setelah menjadi muslim dan merasakan nikmatnya iman, Hakim merasa menyesal karena sebagian besar umurnya dihabiskan dalam kemusyrikan dan mendustakan Nabi Saw. Salah seorang putranya pernah melihat Hakim menangis. Ketika ditanya, apa yang menyebabkannya menangis?, Hakim menjawab, banyak sekali penyebabnya. Ia pun menjelaskan kepada anaknya.
    "Pertama, keterlambatan masuk Islam menyebabkan aku tertinggal merebut banyak kebajikan. Seandainya saat ini aku menafkahkan emas sepenuh bumi, pahalanya belum sebanding dengan kebajikan yang mungkin aku peroleh dengan Islam.
Kedua, sesungguhnya Allah telah menyelamatkn dalam perang Badar dan Uhud. Waktu itu aku berjanji dalam hati tak kan lagi membantu kaum Quraisy memerangi Muhammad, dan tidak akan keluar dari kota Mekkah. Tapi, aku senantiasa ditarik-tarik kaum Quraisy untum membantu mereka.
    Ketiga, setiap aku mau masuk Islam, aku lihat pemimpin-pemimpin Quraisy yang lebih tua tetap berpegang pada kebiasaan-kebiasaan jahiliyah. Lalu aku ikuti mereka secara membabi-buta. Kini aku menyesal, mengapa aku tidak masuk Islam sejak dulu. Itulah yang menyebabkan aku menangis."
    Hakim bin Hazam tidak menyia-nyiakan sisa umurnya untuk beribadah kepada Allah. Ia dermakan hartanya untuk fi sabilillah. Pernah pada suatu musim haji, Hakim membawa seratus ekor unta lalu disembelihnya sebagaaai kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah.
   Pada musim haji berikutnya, Hakim membawa seratus hamba sahaya (budak). Di masing-masing leher budak itu tergantung kalung perak yang bertuliskan "bebas karena Allah 'Azza wa Jalla, dari Hakiam bin Hazam". Setelah menunaikan ibadah haji, budak-budak itu dibebaskan.
Selesai perang Hunain, Hakim bin Hazam meminta harta rampasan kepada Rasulullah. Rasulullah memberinya. Hakim minta lagi dan diberi lagi oleh Rasulullah. Setelah dikumpulkan jumlahnya setara dengan 100 ekor unta. Melihat hal itu, Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya harta itu manis. Siapa yang mengambilnya dengan rasa syukur dan rasa cukup, dia akan diberi barakah dengan harta itu. Dan siapa yang mengambilnya dengan nafsu serakah, dia tidak amendapat barakah. Bahkan dia seperti orang makan yang tak pernah kenyang. Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta)."
    Mendengar ucapan Rasulullah itu, Hakim bin Hazam bersumpah, "Ya Rasulullah, demi Allah yang mengutus engkau dengan agama yang hak, aku berjanji tidak akan meminta-minta apapun kepada siapa saja sesudah ini. Dan aku berjanji tidak akan mengambil sesuatu dari orang lain sampai aku berpisah dengan dunia."
    Sumpah itu dipenuhi Hakim. Pada masa Abu Bakar, Hakim menolak mengambil gajinya dari baitul maal. Begitupun pada masa Umar bin Khattab. Sikap ini tetap dipegang teguh hingga ia menemui Rabbnya.


read more...

Fatimah Az-Zahra

pustaka online | 1:44 PM | Be the first to comment!
Fatimah Az-Zahra

 

   Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad berada di masjid sedang dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta Fatima, yang telah menikah dengan Ali--prajurit utma Islam yang terkenal--datang pada Nabi. Dia meminta dengan sangat kepada aya hnya untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas pekerjaan rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatannya yang buruk, dia tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air dari sumur yang jau h letaknya, di samping juga harus merawat anak-anaknya.
   Nabi tampak terharu mendengar permohonan si anak, tapi sementara itu juga Beliau menjadi agak gugup. Tetapi dengan menekan perasaan, Beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, "Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara mereka ya ng terlibat dalam pengabdian 'Ashab-e Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti." Anak itu mengundurkan diri dengan rasa yang amat puas karena jawaban Nabi, dan selanjutnya tidak pernah lagi mencari pelay an selama hidupnya.
   Fatima Az-Zahra si cantik dilahirkan delapan tahun sebelum Hijrah di Mekkah dari Khadijah, istri Nabi yang pertama. Fatima ialah anak yang keempat, sedang yang lainnya: Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum.
   Fatima dibesarkan di bawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi umat manusia. Tidak seperti anak-anak lainnya, Fatima mempunyai pembawaan yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah, dan kesahatannya yang buruk men yebabkan ia terpisah dari kumpulan dan permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yag agung itu membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpatik, dan tahu mana yang benar.
   Fatima, yang sangat mirip dengan ayahnya, baik roman muka maupun dalam hal kebiasaan yang saleh, adalah seorang anak perempuan yang paling diayang ayahnya dan sangat berbakti terhadap Nabi setelah ibunya meninggal dunia. Dengan demikian, dialan yang sang at besar jasanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya.
   Pada beberapa kesempatan Nabi Muhammad SAW menunjukkan rasa sayang yang amat besar kepada Fatima. Suatu saat Beliau berkata, "O... Fatima, Allah tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang orang yang kau senangi."
Juga Nabi dikabarkan telah berucap: "Fatima itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih, berarti membuat aku juga menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya, berarti menyenangkan aku juga."
   Aisyah, istri Nabi tercinta pernah berkata, "Saya tidak pernah berjumpa dengan sosok probadi yang lebih besar daripada Fatima, kecuali kepribadian ayahnya."
Atas suatu pertanyaan, Aisyah menjawab, "Fatima-lah yang paling disayang oleh Nabi."
Abu Bakar dan Umar keduanya berusaha agar dapat menikah denga Fatima, tapi Nabi diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi sendiri, seorang laki-laki yang padanya tergabung berbagai kebajikan yang langka, bersifat kesatria dan penuh keberanian, kesal ehan, dan kecerdasan, merasa ragu-ragu mencari jalan untuk dapat meminang Fatima. Karena dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri meminang Fatima, dan langsung diterima oleh Nabi. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) milikn ya yang bagus. Kwiras ini dimenangkannya pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mempersiapkan upacara pernikahannya. Upacara yang amat sederhana. Agaknya, maksud utama yang mendasari perayaan it u dengan kesederhanaa, ialah untuk mencontohkan kepada para Musllim dan Musllimah perlunya merayakan pernikahan tapa jor-joran dan serba pamer.
   fatima hampir berumur delapan belas tahun ketika menikah dengan Ali. Sebagai mahar dari ayahnya yang terkenal itu, ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.
   Kepada putrinya Nabi berkata, "Anakku, aku telah menikahkanmu dengan laki laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi daripada yang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan."
   Kehidupan perkawinan Fatima berjalan lanjcar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih, dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat, dan berbakti. Fatima di rumah melaksanakan tugas-tugas rumah tangga; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis melangkah pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun mereka sendiri masih lapar.
   Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terlekat pada keluarga Nabi tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia, Fatima Zahra terkenal karena kemurahan hatinya.
   Pada suatu waktu, seorang dari suku bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir datang kepada Nabi, melontarkan kata-kata makian. Tetapi Nabi menjawab dengan lemah-lembut. Ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia m emeluk agama Islam. Nabi lalu bertanya: "Apakah Anda berbekal makanan?" Jawab orang itu: "Tidak." Maka, Nabi menanyai Muslimin yang hadir di situ: "Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta tamu kita ini?" Mu'ad ibn Ibada menghadiahkan seekor unta. Nabi sangat berkenan hati dan melanjutkan: "Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain u ntuk penutup kepala saudara seagama Islam?" Kepala orang itu tidak memaki tutup sama sekali. Sayyidina Ali langsung melepas serbannya dan menaruh di a tas kepala orang itu. Kemudian Nabi minta kepada Salman untuk membawa orang itu ke tempat seseorang saudara seagama Islam yang dapat memberinya makan, karena dia lapar.
   Salman membawa orang yang baru masuk Islam itu mengunjungi beberapa rumah, tetapi tidak seorang pun yang dapat memberinya makan, kearna waktu itu bukan waktu orang makan.
   Akhirnya Salman pergi ke rumah Fatima, dan setelah mengetuk pintu, Salman memberi tahu maksud kunjungannya. Dengan air mata berlinang, putri Nabi ini mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak sudah tiga hari yang lalu. Namun putri Nabi itu en ggan menolak seorang tamu, dan tuturnya: "Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang."
   Fatima lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikannya kepada Slaman, dengan permintaan agar Salman membawanya barang itu ke Shamoon, seorang Yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang yang baru saja memeluk agama Islam itu sangat terharu. Dan orang Yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri Nabi, dan ia juga memeluk agama Islam dengan menyatakan bahwa Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.
   Salman balik ke rumah Fatima dengan membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri, Fatima menggiling jagung itu, dan membakarnya menjadi roti. Salman menyarankan agar Fatima menyisihkan beberapa buath roti intuk anak-anaknya yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak untuk berbuat demikian, karena ia telah memberikan kain kerudungnya uitu untuk kepentinga Allah.
   Fatima dianugerahi lima orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, dan Muhsin, dan dua putri: Zainab dan Umi Kalsum. Hasan lahir pada tahun kegia dan Husein pada tahun keempat Hijrah. Muhsin meninggal dunia waktu masih kecil.
   Fatima merawat luka Nabi sepulangnya dari Perang Uhud. Fatima juga ikut bersama Nabi ketika merebut Mekkah, begitu juga ia ikut ketika Nabi melaksanakan ibadah Haji Waqad, apda akhir tahun 11 Hijrah.
   Dalam perjalanan haji terakhir ini Nabi jatuh sakit. Fatima tetap mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi membisikkan sesuatu ke kuping Fatima yang membuat Fatima menangis, dan kemudian Nabi membisikkan sesuatu lagi yang membuat Fatima tersenyum. Setelah nabi wafat, Fatima menceritakan kejadian itu kepada Aisyah. Ayahnya membisikkan bertia kematianya, itulah yang menyebabkan Fatima menangis, tapi waktu Nabi mengatakan bahwa Fatima-lah orang pertama yang akan berkumpul dengannya di ala m baka, maka fatima menjadi bahagia.
   Tidak lama setelah Nabi wafat, Fatima meninggal dunia, dalam tahun itu juga, eman bulan setelah nabi wafat. Waktu itu Fatima berumur 28 tahun dan dimakamkan oleh Ali di Jaat ul Baqih (Medina), diantar dengan dukacita masyarakat luas.
   Fatima telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita, dan pada konsepsi manusa yang paling mulia. Nabi sendiri menyatakan bahwa Fatima akan menjadi "Ratu segenap wanita yang berada di Surga."


read more...

Bunda Nabi Musa as

pustaka online | 1:41 PM | Be the first to comment!
Bunda Nabi Musa as 

     Al-Qur'an sama sekali tidak menyebut sesuatu mengenai ayah Nabi Musa as. Yang disebut secara khusus hanya bundanya saja. Kepada bundanya itulah, Allah swt memberi kepercayaan kepada untuk membesarkan calon utusan-Nya. Kepercayaan besar itu diberikan kepada ibu Musa ketika Fir'aun tak dapat lagi menahan amarahnya melihat tingkah laku dan kejahatan orang-orang Yahudi (Bani Israil).
        Dalam riwayat yang lain disebutkan tentang mimpi Fir'aun yang sangat menakutkan. Para ahli nujum dan juru ramal yang ditanya mengenai arti mimpi itu menjawab, bahwa di kalangan orang-orang Yahudi akan lahir seorang anak lelaki. Apabila besar ia akan merampas kerajaan dan mengalahkan kekuasaan Fir'aun. Ia akan mengusir penduduk asli Mesir dan mengganti agama mereka.
      Fir'aun sangat percaya dengan pentakwilan mimpinya yang demikian itu. Maka sejak itu Fir'aun memerintahkan kepada segenap aparatur pemerintah, tentara dan seluruh prajuritnya, untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari keluarga Yahudi.
     Pada kondisi yang sangat mencekam itulah ibu Musa melahirkan anak lelaki secara sembunyi-sembunyi. Ketika itu alat kekuasaan Fir'aun sudah membunuh berpuluh ribu anak lelaki Yahudi. Darah bayi-bayi tak berdosa sudah menggenangi Mesir, yang dibunuh secara sangat sadis.
      Kendati melahirkan dengan sembunyi, namun mata-mata Fir'aun yang disebar di segenap penjuru menciumnya juga. Rumah ibu Musa digrebeg dan bayi yang baru beberapa hari lahir itu nyaris diketahui oleh mata-mata Fir'aun. Untung saja beberapa saat sebelum mereka sempat masuk ke dalam rumah, kakak perempuan Musa, Maryam, sempat memberitahu ibunya, bahwa gerombolan mata-mata Fir'aun siap melakukan menggeledahan.
     Di antara rasa takut dan bingung ibu Musa cepat-cepat membungkus bayinya dengan secarik kain, lalu memasukkan ke dalam sebuah wadah terbuka kemudian disembunyikan dalam tungku. Untung pada saat tentara-tentara haus darah itu datang, bayi Musa tidak menangis. Di depan para tentara itu ibu Musa berusaha dengan segenap kemampuannya menenangkan diri hingga tampak tidak terjadi apa-apa. Maryam, kakak Musa pun tidak tampak resah dan gelisah. Ia bekerja membenahi perkakas rumah dengan tenang, hingga akhirnya para alat kekuasaan Fir'aun meninggalkan rumah.
     Akan tetapi ibu Musa sadar, bahwa bayinya tidak mungkin dapat disembunyikan terus menerus. Ia mencari akal untuk menyelamatkan buah hatinya. Pada saat itu datanglah petunjuk dari Allah yang berfirman, “Taruhlah dia (Musa) dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia di bengawan (Sungai Nil). Air bengawan itu pasti akan membawanya ke tepi dan dia akan diambil oleh musuh-Ku dan musuhnya.” (QS. Thaha:39).
    Bayi Musa akhirnya terdampar di Istana Fir'aun hingga kemudian, ia berhasil menumbangkan keangkaramurkaan raja yang zhalim itu.

read more...

Friday, February 17, 2017

Bilal bin Rabah

pustaka online | 11:01 AM | Be the first to comment!
Bilal bin Rabah 

 
   Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.
"Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu," demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.
   "Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu," kata Bilal masih dalam mimpin-ya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.
   Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.
   Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan nabi tercinta.
    Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal.
   Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. "Marhaban ya Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.
   Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beber-apa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadarrasulullah." Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.
   Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. "Adzanlah wahai Bilal," perintah Abu Bakar.
   Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu membe-baskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku."
   "Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar.
   "Maka biarkan aku memilih pilihanku," pinta Bilal.
   "Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah," lanjut Bilal.
   "Kalau demikian, terserah apa maumu," jawab Abu Bakar.
***
   Di atas, adalah sepenggal kisah tentang Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Seperti yang kita tahu, Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia.
   Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.
   Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati, begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab.
   Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai ganjarannya, Bilal di siksa dengan berbagai cara. Sampai datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan sejumlah uang tebusan.
   Bisa dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk orang yang pilih tanding dalam mempertahankan agamanya. Zurr bin Hubaisy, suatu ketika berkata, orang yang pertama kali menampak-kan keislamannya adalah Rasulullah. Kemudian setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.
   Selain Allah tentunya, Rasulullah dilindungi oleh paman beliau. Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan, budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan walin-ya, itu lebih cukup dari segalanya.
   Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan. Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan. Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, "Ahad, ahad," puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.
   Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang membukti-kan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai di sisi-Nya.
   Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menja-dikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah.
   "Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu."
   Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. "Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu dan shalat sunnah dua rakaat."
   "Ya, dengan itu kamu mendahului aku," kata Rasulullah membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah.
   Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan merasa lebih suci ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak belian dari Habasya, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.
    Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya.
Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.
Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.


read more...

Asma' binti Abu Bakar: "Wanita Besi" yang Berumur Panjang

pustaka online | 10:57 AM | Be the first to comment!
Asma' binti Abu Bakar: "Wanita Besi" yang Berumur Panjang

 
    Nama wanita ini pendek saja, Asma`, lengkapnya Asma` binti Abu Bakar. Tapi, perjalanan hidupnya tak sependek namanya. Allah memberinya umur panjang dan kecerdasan berpikir, sehingga ia bisa mewarnai nuansa hidup para generasi tabi'in dengan nuansa kehidupan di zaman Rasulullah.
    Asma` termasuk kelompok wanita yang pertama masuk Islam. Sosok Asma tak bisa dipisahkan dengan peristiwa hijrah Rasulullah Saw. dan ayahnya Abu Bakar. Dialah yang mengirim bekal makanan dan minuman kepada kedua kekasih Allah itu. Dan lantaran peristiwa inilah, Asma digelari "dzatin nithaqain" (wanita yang memiliki dua ikat pinggang). Gelar ini diberikan ketika Asma hendak mengikat karung makanan dan tempat minuman yang akan dikirim kepada Rasulullah dan Abu Bakar. Waktu itu Asma tidak memiliki tali untuk mengikatkanya, maka ia pun memotong ikat pinggangnya menjadi dua, satu untuk mengikat karung makanan, dan satunya lagi untuk mengikat tempat air minum. Ketika Rasulullah Saw. mengetahui hal ini, beliau berdoa semoga Allah mengganti ikat pinggang Asma dengan dua ikat pinggang yang lebih baik dan indah di surga.
    Asma` menikah dengan Zubeir bin Awwam, seorang pemuda dari kalangan biasa yang tak memiliki harta, kecuali seekor kuda. Meski demikian, Asma` tidak kecewa. Ia tetap setia melayani suaminya. Jika suaminya sedang sibuk mengemban tugas dari Rasulullah, Asam` tak segan-segan merawat dan menumbuk biji kurma untuk makanan kuda suaminya. Buah perkawinannya dengan Zubeir, Allah mengamanahi mereka seorang anak yang cerdas bernama Abdullah bin Zubeir.
    Asma` memiliki beberapa sifat istimewa. Selain cantik, hampir sama dengan saudaranya 'Aisyah, ia juga cerdas, cekatan, dan lincah. Sifat pemurahnya menjadi teladan banyak orang.
Waktu terus berjalan. Abdullah bin Zubeir, anaknya, diangkat menjadi Khalifah menggantikan Yazid bin Mu'awwiyah yang wafat. Bani Umayyah tidak rela dengan kepemimpinan Abdullah bin Zubeir. Mereka menyiapkan tentara yang besar di bawah pimpinan Panglima Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi untuk menggulingkan Khalifah Abdullah bin Zubeir. Perang antara dua kekuataan itu tak dapat dihindari. Abdullah bin Zubeir turun ke medan tempur memimpin langsung pasukannya.
    Tapi, para perwira bawahan dan prajuritnya banyaknya yang melakukan desersi ke pihak Bani Umayyah. Akhirnya dengan jumlah yang tinggal sedikit, pasukan Abdullah bin Zubeir mundur ke Baitul Haram, berlindung di bawah Ka'bah. Beberapa saat sebelum kekalahannya, Abdullah bin Zubeir menemui ibunya.
    Asma' binti Abu Bakar, ibunya, bertanya, "Mengapa engkau datang ke sini padahal batu-batu besar yang dilontarkan pasukan Hajjaj kepada pasukanmu menggetarkan seluruh kota Mekkah?"
Aku datang hendak berkonsultasi dengan ibu," jawab Abdullah dengan penuh rasa hormat.
    "Tentang apa," tanya Asma' lagi.
    "Tentaraku banyak yang desersi. Mungkin karena takut kepada Hajjaj, atau mungkin juga mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikan. Tentara yang tersisa pun tampaknya tak akan sabar bertahan lebih lama bersamaku. Sementara itu, para utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang kuminta berupa kemewahan dunia, asal aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah. Bagaimana pendapat ibu?" tanya Abdullah.
    Asma' menjawab dengan suara tinggi, "Terserah engkau, ya Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang lebih tahu tentang dirimu. Bila engkau yakin dalam kebenaran, maka teguhkan hatimu seperti para prajuritmu yang telah gugur. Tapi bila engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau seorang laki-laki yang pengecut. Berarti engkau mencelakakan diri sendiri, dan menjual murah harga sebuah kepahlawanan."
   Abdullah bin Zubeir menundukkan kepala di hadapan ibunya yang tampak kecewa. Meski ibunya sudah tua dan buta, Abdullah sang Khalifah dan panglima perang yang gagah berani tak sanggup melihat wajah ibunya karena rasa hormat dan kasihnya.
   "Tapi aku akan terbunuh hari ini, bu!" tutur Abdullah lembut.
   "Itu lebih baik bagimu, daripada engkau menyerahkan diri kepada Hajjaj. Pada akhirnya kepalamu akan diinjak-injak juga oleh budak-budak Bani Umayyah dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sulit untuk dipercaya," jawab ibunya tegas.
   "Aku tidak takut mati, bu! Tapi aku khawatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam," ujar Abdullah lagi.
   "Tak ada yang perlu ditakuti perbuatan orang hidup terhadap orang yang telah mati. Bukankah kambing yang sudah disembelih tidak merasa sakit lagi ketika dikuliti?" jawab Asma'.
   "Yang ibu khawatirkan justru kalau engkau mati di jalan yang sesat," tambah Asma'.
   "Percayalah bu, aku tak memiliki pikiran sesat untuk berbuat keji. Aku tak akan melanggar hukum Allah. Aku tidak pengecut, dan aku tetap lebih mengutamakan keridhaan Allah dan keridhaan ibu," ucap Abdullah mantap.
   Nasihat Asma' binti Abu Bakar makin memantapkan Abdullah bin Zubeir untuk mempertahankan dan membela kebenaran. Sebelum matahari terbenam, Abdullah bin Zubeir syahid menemui Rabbnya.

read more...

Asma' binti Yazid bin Sakan (Juru Bicara Wanita)

pustaka online | 10:53 AM | Be the first to comment!
Asma' binti Yazid bin Sakan (Juru Bicara Wanita) 


  Beliau adalah Asma' binti Yazid bin Sakan bin Rafi' bin Imri'il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyyah, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah.

    Beliau adalah seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus, dan ahli argumen, sehingga beliau dijuluki sebagai "juru bicara wanita".

    Di antara sesuatu yang istimewa yang dimiliki oleh Asma' ra adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta ketulusan hatinya. Selebihnya dalam segala sifat sebagaimana yang dimiliki oleh wanita-wanita Islam yang lain yang telah lulus dalam madrasah nubuwwah, yakni tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina, bahkan beliau adalah seorang wanita yang pemberani, tegar, mujahidah. Beliau menjadi contoh yang baik dalam banyak medan peperangan.

    Asma' ra mendatangi Rasulullah saw pada tahun pertama hijrah dan beliau berba'iat kepadanya dengan ba'iat Islam. Rasulullah saw memba'iat para wanita dengan ayat yang tersebut dalam surat Al-Mumtahanah, "Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Mumtahanah: 12).

    Ba'iat dari Asma' binti Yazid ra adalah untuk jujur dan ikhlas, sebagaimana yang disebutkan riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma' mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi saw bersabda, "Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma', tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari neraka?"

    Maka, segeralah beliau tanpa ragu-ragu dan tanpa argumentasi untuk mengikuti perintah Rasulullah saw, maka beliau melepaskannya dan meletakkan di depan Rasulullah saw.

    Setelah itu Asma' aktif untuk mendengar hadis Rasulullah saw yang mulia dan beliau bertanya tentang persoalan-persoalan yang menjadikan dia paham urusan dien. Beliau pulalah yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang tata cara thaharah (bersuci) bagi wanita yang selesai haidh. Beliau memiliki kepribadian yang kuat dan tidak malu untuk menanyakan sesuatu yang hak. Oleh karena itu, Ibnu Abdil Barr berkata, "Beliau adalah seorang wanita yang cerdas dan bagus diennya."

    Beliau ra dipercaya oleh kaum muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara dengan Rasulullah saw tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Pada suatu ketika Asma' mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sebagaiamana aku berpendapat. Sesungguhnya Allah SWT mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudiaan kami beriman kepada anda dan memba'iat anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan salat Jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga
mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?"

    Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah saw menoleh kepada para sahabat dan bersabda, "Pernahkan kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?"

    Para sahabat menjawab, "Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!" Kemudian Rasulullah saw bersabda,"Kembalilah wahai Asma' dan beri tahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, saatnya ia untuk mendapat persetujuannya, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki."

    Maka, kembalilah Asma' sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw.

    Dalam dada Asma' terbetik keinginan yang kuat untuk ikut andil dalam berjihad, hanya saja kondisi ketika itu tidak memungkinkan untuk merealisasikannya. Akan tetapi, setelah tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah saw hingga perang Yarmuk beliau menyertainya dengan gagah berani.
 
    Pada perang Yarmuk ini, para wanita muslimah banyak yang ikut andil dengan bagian yang banyak untuk berjihad sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah wan-Nihaayah, beliau membicarakan tentang perjuangan mujahidin mukminin. Beliau berkata, "Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani."

    Dalam bagian lain beliau berkata, "Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu. Adapun Khaulah binti Tsa'labah ra berkata:
Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa
Tidak akan kalian lihat tawanan
Tidak pula perlindungan
Tidak juga keridhaan

    Beliau juga berkata dalam bagian yang lain, "Pada hari itu kaum muslimah berperang dan berhasil membunuh banyak tentara Romawi, akan tetapi mereka memukul kaum muslimin yang lari dari kancah peperangan hingga mereka kembali untuk berperang."

    Dalam perang yang besar ini, Asma' binti Yazid menyertai pasukan kaum muslimin bersama wanita-wanita mukminat yang lain berada di belakang para mujahidin mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan minum bagi para mujahidin dan mengobati yang terluka di antara mereka serta memompa semangat juang kaum muslimin.

    Akan tetapi, manakala berkecamuknya perang, manakala suasana panas membara dan mata menjadi merah, ketika itu Asma' ra lupa bahwa dirinya adalah seorang wanita. Beliau hanya ingat bahwa dirinya adalah muslimah, mukminah, dan mampu berjihad dengan mencurahkan segenap kemampuan dan kesungguhannya. Hanya beliau tidak mendapatkan apa-apa yang di depannya melainkan sebatang tiang kemah, maka beliau membawanya kemudian berbaur dengan barisan kaum muslimin. Beliau memukul musuh-musuh Allah ke kanan dan ke kiri hingga dapat membunuh sembilan orang dari tentara Romawi, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Hajar tentang beliau, "Dialah Asma' binti Yazid bin Sakan yang menyertai perang Yarmuk, ketika itu beliau membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah, kemudian beliau masih hidup selama beberapa tahun setelah peperangan tersebut."

    Asma' keluar dari peperangan dengan membawa luka di punggungnya dan Allah menghendaki beliau masih hidup setelah itu selama 17 tahun karena beliau wafat pada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menyuguhkan kebaikan bagi umat.

    Semoga Allah merahmati Asma' binti Yazid bin Sakan dan memuliakan dengan hadis yang telah beliau riwayatkan bagi kita, dan dengan pengorbanan yang telah beliau usahakan, dan telah beramal dengan sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain dalam hal mencurahkan segala kemampuan dan usaha demi memperjuangkan al-haq dan mengibarkan bendera hingga dien ini hanya bagi Allah.


read more...

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

 
Copyright © 2017 PUSTAKA ONLINE • All Rights Reserved.